Tampilkan postingan dengan label KARDIOLOGI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KARDIOLOGI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Januari 2015

GAGAL JANTUNG AKUT

REFERAT GAGAL JANTUNG AKUT


BAB I  
PENDAHULUAN

Heart Failure (HF) atau gagal jantung (GJ) adalah suatu sindroma klinis kompleks, yang didasari oleh ketidakmampuan jantung untuk memompakan darah ke seluruh jaringan tubuh secara adekuat, akibat adanya gangguan struktural dan fungsional dari jantung. Pasien dengan HF harus memenuhi kriteria sebagai berikut :
·         Gejala-gejala (symptoms) dari HF berupa sesak nafas yang spesifik pada saat istirahat atau saat beraktivitas dan atau rasa lemah, tidak bertenaga.
·         Tanda-tanda (signs) dari HF berupa retensi air seperti kongesti paru, edema tungkai.
·         Dan objektif, ditemukannya abnormalitas dari stuktur dan fungsionalitas jantung. (Tabel 1)1
Tabel 1. Gagal Jantung adalah Sindrom klinis di mana pasien Memiliki Gejala Berikut
Gejala gagal jantung yang khas
(sesak napas saat istirahat atau latihan, kelelahan, pergelangan kaki bengkak)
And
Tanda-tanda khas gagal jantung
(takikardia, tachypnoe, , efusi pleura,
peningkatan JVP, edema perifer, hepatomegali)
And
Bukti obyektif dari struktural kelainan fungsional jantung saat istirahat
(kardiomegali, bunyi jantung ketiga, murmur jantung, kelainan pada echocardiogram,
peningkatan konsentrasi peptida natriuretik)

HF dapat memberikan spektrum klinis yang luas, mulai dari ukuran jantung LV yang masih normal, dengan Ejection Fraction (EF) yang masih cukup, sampai LV dilatasi berat, dengan/ atau EF yang sangat buruk. Manifestasi klinis utama dari HF adalah sesak nafas, mudah capek yang mengakibatkan toleransi aktivitas berkurang, retensi air yang dapat memicu edema paru dan edema perifer.
Perlu diingat bahwa keluhan dan gejala bisa berbeda pada setiap individu, ada sesak nafas, belum tentu ada edema perifer dan sebagainya.1
Untuk menilai gangguan dan kapasitas fungsional dari HF, pertama kali diperkenalkan oleh New York Heart Association (NYHA) tahun 1994, yang membagi HF menjadi 4 klasifikasi, dari kelas 1 sampai kelas 4tergantung dari tingkat aktivitas dan timbulnya keluhan, misalnya sesak sudah timbul pada waktu istirahat menjadi kelas 4, sesak timbul pada waktu melakukan aktivitas ringan menjadi kelas 3, sesak timbul saat aktivitas sedang menjadi kelas 2, sedangkan kelas 1 sesak timbul saat beraktivitas berlebih. Kasifikasi menurut NYHA lebih banyak atau pada umumnya berdasarkan keluhan subyektif.1

Klasifikasi terbaru yang dikeluarkan American College of Cardiology/American Heart Association (ACC/AHA) pada tahun 2005 yang menekankan pembagian HF berdasakan progresivitas kelainan struktural dari jantung dan perkembangan status fungsional. Klasifikasi dari ACC/AHA ini, perkembangan HF dibagi juga menjadi 4 stages, A,B,C dan D. Stage A dan B jelas belum HF, hanya mengingatkan pelaksana pelayanan kesehatan (heakth care provider) bahwa kondisi ini ke depan dapat masuk kedalam keadaan HF. Stage A menandakan ada faktor risiko HF (diabetes, hipertensi, PJK) namun belum ada kelainan struktural dari jantung (cardiomegali, LVH, dll.) maupun kelainan fungsional. Sedangkan pada stage B ada faktor-faktor risiko HF seperti pada stage A dan sudah terdapat kelainan struktural, LVH cardiomegali dengan atau tanpa gangguan fungsional, namun bersifat asimptomatik. Stage C, sedang dalam dekompensasi dan atau pernah HF, yang didasari oleh kelainan struktural dari jantung. Stage D adalah yang benar-benar masuk kedalam refractory HF, dan perlu advance treatment strategies. Juga apabila dilihat dari segi onsetnya, maka HF dapt dibagi menjadi new onset HF, transient HF, dan chronic HF. New onset HF merujuk ke presentasi klinis pertama HF, transient HF merujuk ke HF simptomatik terbatas pada periiode waktu tertentu, walaupun pengobatan jangka panjang masih diperlukan, misalnya HF karena myokarditis ringan dan sembuh secara baik. HF karena ischemia, dilakukan revaskularisasi dan berhasil. HF [ada infark akut yang tidak memerlukan terapi diuretik jangka panjang. Chronic HF dapat berupa persisten atau perburukan HF yang didasari oleh chronic HF (dekompensasi) merupakan HF terbanyak dari seluruh bentuk HF yang dirawat di rumah sakit, yakni 80% dari jumlah semua kasus.1


PREVIEW
GOOGLE DRIVE

DOWNLOAD
DROPBOX

Jumat, 26 Desember 2014

AORTA REGURGITASI

REFERAT AORTA REGURGITASI


  BAB 1
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
Jenis kelainan katup yang sering di dapatkan adalah stenosis aorta 43,1% dari 1197 pasien, regurgitasi mitral 31,5% dari 877 pasien, regurgitasi aorta 13,3% dari 369 pasien, stenosis mitral 12,1% dari 336 pasien. Dari studi Framingham di dapatkan 4,9% angka kejadian regurgitasi aorta dan 10% dari strong heart study terhadap 250 pasien1. Dari keterangan di atas dapat diperoleh kesimpulan bahwa dunia kesehatan masih tak dapat lepas dari regurgitasi aorta dan perlu adanya tindakan dalam penangannya, apalagi adanya dampak yang mengakibatkan kematian.
Aorta regurgitasi kronik biasanya terjadi akibat proses kronik seperti penyakit jantung rematik, sehingga artifisial kardiovaskular sempat melakukan kompensasi1. Meskipun penyakit jantung rematik secara keseluruhan penyebab paling umum dari regurgitasi aorta di seluruh dunia, kelainan katup kongenital dan degeneratif adalah penyebab paling umum di Amerika Serikat, dengan usia deteksi memuncak pada 40-60 tahun. Regurgitasi aorta terlihat lebih sering pada pria dibandingkan pada wanita. Dalam kohort dari studi Framingham, regurgitasi aorta ditemukan pada 13% pria dan 8,5% wanita2.

Prevalensi regurgitasi aorta internasional tidak diketahui. Namun, prevalensi internasional berdasarkan kondisi yang mendasari telah dijelaskan. Misalnya, penyakit jantung rematik masih sangat lazim di banyak Asia, Timur Tengah, dan negara-negara Afrika Utara. Regurgitasi aorta kronik sering dimulai pada pasien ketika mereka berada di akhir 50-an dan didata paling sering didapatkan pada pasien yang usia lebih dari 80 tahun. Secara umum, prevalensi dan keparahan regurgitasi aorta meningkat dengan usia, meskipun regurgitasi aorta kronik yang parah jarang terjadi sebelum usia 70 tahun. Namun, ada banyak pengecualian untuk pengamatan ini. Pasien dengan katup aorta bikuspid dan, terutama, orang-orang dengan sindrom Marfan cenderung untuk terjadi lebih awal2,7.


PREVIEW
 GOOGLE DRIVE

DOWNLOAD
DROPBOX

Selasa, 16 Desember 2014

HIPERTENSI

REFERAT HIPERTENSI

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  latar belakang
Penyakit darah tinggi yang lebih dikenal sebagai hipertensi merupakan penyakit yang mendapat perhatian dari semua kalangan masyarakat, mengingat dampak yang ditimbulkannya baik jangka pendek maupun jangka panjang sehingga membutuhkan penanggulangan jangka panjang yang menyeluruh dan terpadu.
Penyakit hipertensi menimbulkan angka morbiditas (kesakitan) dan mortalitasnya (kematian) yang tinggi.Penyakit hipertensi merupakan penyakit yang timbul akibat adanya interaksi dari berbagai faktor resiko yang dimiliki seseorang. Berbagai penelitian telah menghubungkan antara berbagai faktor resiko terhadap timbulnya hipertensi.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan tenyata prevalensi (angka kejadian) hipertensi meningkat dengan bertambahnya usia. Dari berbagai penelitian epidemiologis yang dilakukan di Indonesia menunjukan 1,8-28,6% penduduk yang berusia diatas 20 tahun adalah penderita hipertensi.
Hipertensi, saat ini terdapat adanya kecenderungan bahwa masyarakat perkotaan  lebih banyak menderita hipertensi dibandingkan masyarakat pedesaan. Hal ini antara lain dihubungkan dengan adanya gaya hidup masyarakat kota yang berhubungan dengan resiko penyakit hipertensi seperti stress, obesitas (kegemukan), kurangnya olahraga, merokok, alkohol, dan makan makanan yang tinggi kadar lemaknya.
Sejalan dengan bertambahnya usia, hampir setiap orang mengalami kenaikan tekanan darah, tekanan sistolik terus meningkat sampai usia 80 tahun dan tekanan diastolik terus meningkat sampai usia 55-60 tahun

1.1  Tujuan

Tujuan referat ini adalah untuk mengetahui bagaimana diagnosis hipertensi yang disertai definisi, klasifikasi, Patofisiologi, komplikasi, cara pemeriksaan serta prinsip terapi dari  hipertensi



PREVIEW
 GOOGLE DRIVE

DOWNLOAD
DROPBOX